Failed on Paper, and.. I Won!

Pernah nggak sih merasa gagal atas sesuatu yang paling ditunggu? Aku pernah, di November 2025 lalu.

Disclaimer: karena cerita ini based on true event dan pelajarannya cukup banyak, kisah ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Cerita ini baru pertama kali muncul di ruang publik. Sebelumnya, ia lebih sering diceritakan di ruang aman tertutup — biasanya setelah sesi coaching ketika mendapati cerita serupa dari klien — atau di ruang aman terbuka bersama teman-teman yang dipercaya.

Pelajaran tentang Emosi dan Sensasi Tubuh
Saat hasil ujian keluar, tertulis jelas di atas kertas: FAILED, dengan skor di bawah batas minimum. Apa reaksi pertamaku? Sejujurnya, tidak ada reaksi langsung. Namun begitu masuk ke lift dan sendirian, emosi itu datang menghampiri.

Rasa pertama yang muncul adalah kesedihan yang mendalam—luapan kecewa pada diri sendiri. Tak lama kemudian, emosi itu menemukan jalannya: air mata menetes dari kedua sudut mata. Bagi aku, air mata adalah simbol kedalaman emosi yang sedang dirasakan.

Aku juga mulai memperhatikan sensasi tubuh. Dada terasa sesak. Kulit wajah terasa panas, seperti berada di dekat uap air dari teko mendidih. Lalu aku menyadari kedua tanganku terkepal—oh, ternyata aku sedang marah. Napasku pendek, seolah hanya berada di area dada dan tercekat di tenggorokan.

Sebelum memutuskan untuk mengerang karena frustrasi dan bergegas meninggalkan area Kuningan, aku bertanya pada diriku sendiri:

“Kamu mau ngapain sekarang? Mau naik Bluebird dan langsung pulang? Mau naik MRT dan eksplor Blok M? Atau mau jalan kaki di Mega Kuningan?”

Fun fact: semua aplikasi transportasi di handphone-ku tidak berfungsi sama sekali. Entah karena sinyal, atau karena emosiku sudah terlalu bising hingga berkomunikasi ke luar tubuh.

Aku berhenti sejenak. Mengamati TransJakarta yang melintas, lalu menyeberang jalan dan naik bus yang datang. Tujuannya sederhana: keluar dulu dari area Kuningan dan tiba di stasiun MRT.

Hari itu aku memilih untuk mendengarkan tubuhku dan membiarkannya memanduku. Jujur saja, aku malas berpikir dan hanya ingin mengikuti intuisi.

Emosiku masih campur aduk. Aku sempat berkomunikasi dengan seorang teman yang menawarkan dukungan. Karena aku sendiri belum tahu apa yang ingin kulakukan selanjutnya, aku pamit untuk memasukkan handphone ke dalam tas dan memberi tahu bahwa responku akan tertunda.

Tanpa Sadar: Melakukan Teknik 5–4–3–2–1
Pernah mendengar Teknik 5–4–3–2–1 untuk mengelola kecemasan atau rasa tidak nyaman lainnya?

Ternyata, tanpa disadari, aku mempraktikkannya selama perjalanan.

Di dalam TransJakarta, aku melihat begitu banyak hal: orang-orang, warna pakaian, interior bus, gedung-gedung, pepohonan, langit, lalu lintas. Hal-hal yang sebenarnya biasa, namun siang itu terasa berbeda—seolah baru pertama kali kulihat. Terutama motif baju, warna kendaraan, tenda, tanaman, lampu lalu lintas, dan detail-detail kecil lainnya.

Aku sengaja tidak menggunakan earbud. Aku membiarkan telingaku menangkap berbagai suara: obrolan penumpang lain, suara mesin bus, klakson kendaraan di luar, dengung AC, dan sebagainya.

Karena menggunakan masker, aku juga mengatur napas dengan lebih sadar. Menyadari udara masuk dan keluar melalui hidung.

Beberapa kali aku mengusap permukaan tas, memegang handle kursi, dan merasakan tekstur pakaianku. Aku juga menyadari perubahan suhu—antara udara luar dan udara di dalam bus.

Bergerak, dan Emosi Mulai Mereda
Setelah turun dari bus, aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena aplikasi transportasi masih belum bisa dibuka. Tanpa earbud, aku berjalan santai di sore hari menuju apartemen. Oh ya, aku juga meminta Tuhan untuk menemaniku selama perjalanan itu.

Aku menyadari satu hal penting: perasaan yang tadi kurasakan sudah memudar. Intensitasnya jauh berkurang. Saat aku bercerita pada Tuhan, aku tidak lagi merasakan bobot emosi di setiap kata.

Wow.

Karena aku terus bergerak. Energi butuh dan bisa digerakkan. Energy in motion.

Pelajaran tentang Fokus dan Skala Prioritas
Aku juga menyadari pelajaran lain yang tak kalah penting: fokus dan skala prioritas.

Beberapa minggu sebelum ujian, aku memang belajar. Namun karena ada banyak aktivitas lain, ujian ini terasa, tanpa kusadari, menjadi kurang jadi prioritas. Padahal, ini adalah momen yang sebenarnya sangat aku nantikan.

Dalam satu minggu menjelang ujian, aku belum mengambil satu hari libur pun. Kalenderku penuh. Ada beberapa hal yang ternyata menjadi sumber energy leak — informasi yang sebenarnya sudah tertulis jelas, namun terus ditanyakan berulang kali.

Belajar menjelang ujian akhirnya terasa seperti aktivitas biasa, tanpa kesadaran penuh. Padahal, secara alami, caraku belajar adalah dengan benar-benar meluangkan waktu dan fokus pada satu hal saja. Kali ini, aku tidak melakukannya. Aku memberi terlalu banyak akses bagi interupsi.

Dari sini aku belajar: pentingnya menentukan fokus belajar, meluangkan waktu untuk hadir utuh bagi jadwalku sendiri, dan menjadikan proses belajar sebagai prioritas nyata.

Pelajaran tentang Jeda
Kalender yang padat membuatku lupa satu hal penting: jeda.

Mengambil waktu untuk istirahat, berhenti sejenak dari aktivitas berat, sama pentingnya bagiku. Saat ujian, aku juga tidak memberi ruang untuk mendengarkan tubuh. Entah apa yang membuatku ingin segera selesai, aku tidak mengambil jeda meski sistem mengizinkan.

Akibatnya, sistem sarafku terus berada dalam mode siaga. Tubuh menegang tanpa kusadari.

Padahal, tubuh sudah memberi banyak sinyal: pegal di area pinggang, rasa bosan saat duduk di kubikel, pandangan yang berulang kali tertuju ke jendela. Semua tanda kecil itu adalah undangan untuk berhenti sejenak dan aku abaikan. Aku memilih terus mengisi soal.

Dari kejadian ini, aku belajar dan memutuskan: jika kelak aku mengambil ujian yang sama, aku akan memberi ruang untuk jeda. Mengambil beberapa hari istirahat, menerima sesi Access Bars agar tubuh lebih rileks, saat ujian mengambil waktu istirahat dan menjauh sejenak dari komputer di kubikel, serta menyusun skala prioritas yang jelas—untuk fokus belajar, menjalani ujian, dan meminimalkan energy leaks.

Pertanyaan reflektif: Pelajaran apa yang pernah kamu dapatkan dari sebuah kegagalan?

Aku membuka sesi 1-on-1 coaching untuk profesional dan individu yang ingin:

– mendapatkan kembali kejernihan
– mengelola emosi dan energi dengan lebih sehat
– membuat keputusan yang selaras dengan diri

Silakan untuk membuka link berikut.

By Pitta

a music enthusiast a concert goer

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *